Sawahlunto – Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Sawahlunto bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat berkolaborasi dengan Forum Penggiat Literasi Adinegoro Sawahlunto menggelar seminar pengusulan tokoh pers nasional Djamaluddin Adinegoro sebagai Pahlawan Nasional. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Saka Heritage Kota Sawahlunto, Rabu (29/8/2026).
Seminar tersebut dihadiri oleh anggota Komisi V DPRD Provinsi Sumatera Barat Neldaswenti, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat Jumadi, perwakilan Karang Taruna, KNPI, para kepala desa/lurah, serta undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Jumadi menyampaikan bahwa seminar ini bertujuan untuk menggali dan memperkaya narasi sejarah nasional, sekaligus menyoroti peran penting Adinegoro dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
“Dalam konteks literasi, kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan untuk mengangkat perjalanan panjang Kota Sawahlunto sebagai warisan tambang batubara Ombilin,” ujar Jumadi.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Komisi V DPRD Sumbar melalui pokok-pokok pikiran anggota dewan guna memperkuat usulan penetapan Adinegoro sebagai Pahlawan Nasional. Djamaluddin Adinegoro, yang lahir di Talawi, Sawahlunto, dikenal sebagai pelopor jurnalistik Indonesia yang menimba ilmu publisistik di Jerman pada tahun 1920-an.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Sawahlunto Rovanly Abdams mengapresiasi pelaksanaan seminar tersebut. Ia berharap akan ada tindak lanjut konkret dalam proses pengusulan Adinegoro menjadi Pahlawan Nasional.
“Pemerintah Kota Sawahlunto bersama Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat sebenarnya telah mengajukan Adinegoro sebagai Pahlawan Nasional, namun proses tersebut terhenti pada Maret 2021. Harapannya, ke depan pengusulan ini dapat dilanjutkan kembali,” ungkapnya.
Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Wannofry Syamri yang membahas persiapan akademik pengusulan Adinegoro sebagai Pahlawan Nasional, Basril Basyar yang mengulas jejak pemikiran Adinegoro sebagai tokoh pers nasional, serta Hasril Chaniago yang memaparkan strategi pengangkatan tokoh nasional menjadi Pahlawan Nasional.
(Yoa)